Cucumu sedang belajar makan sendiri. Nasi berceceran di meja, dan kamu ingin segera membantu menyuapinya. Namun, anakmu yang sekarang sudah menjadi orang tua justru berkata, "Biarkan dia mencoba sendiri dulu, Pa/Ma." Situasi kecil seperti ini menunjukkan betapa pandangan tentang tumbuh kembang anak bisa berbeda antara generasimu dan generasi anakmu.
Ketika dulu membesarkan anak, kamu mungkin punya kebiasaan yang dianggap paling tepat pada masanya. Sekarang, setelah memasuki masa pensiun dan memiliki cucu, kamu melihat pendekatan yang berbeda. Wajar jika sesekali muncul pertanyaan atau rasa kurang setuju.
Meski begitu, pengalamanmu tetap berharga. Kuncinya adalah memahami bahwa kamu dan anakmu memiliki peran berbeda dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
Dulu, saat anakmu masih kecil, kamu mungkin memintanya menghabiskan makanan sebelum meninggalkan meja. Sekarang, anakmu memilih mengajari anaknya mengenali rasa kenyang. Contoh lain, ketika cucu menangis karena mainannya diambil, kamu ingin segera mengalihkan perhatiannya. Anakmu justru lebih dulu mengajak si kecil bercerita tentang perasaannya.
Perbedaan ini bukan berarti kamu kurang memahami cara mengasuh. Dikutip dari ANTARA, Psikolog Universitas Indonesia, Prof. Rose Mini Agoes Salim, menyebut pengalaman generasi sebelumnya tetap bisa menjadi masukan dalam menentukan pola asuh. Tetapi, informasi tentang perkembangan anak terus bertambah, begitu pula pilihan yang dibuat setiap keluarga. Kedua cara itu sama-sama berangkat dari keinginan agar cucu tumbuh baik. Karena itu, ketika kamu dan anak saling mendengarkan, maka akan mendatangkan manfaat seperti:
Cucu merasa aman. Aturan yang selaras antara rumah orang tua dan rumah kakek-nenek membuatnya lebih tenang.
Anakmu lebih terbuka. Ia lebih mudah bercerita dan meminta saran kalau tidak merasa dikoreksi.
Pengalamanmu lebih mudah diterima. Masukan terdengar sebagai pilihan, bukan penilaian.
Cucu tidak terjebak di tengah. Ia tidak perlu memilih antara orang tuanya dan kakek-neneknya.
Lalu bagaimana agar perbedaan pendapat tidak membuat suasana keluarga canggung? Mulailah dengan menanyakan alasan di balik kebiasaan baru itu. Kamu bisa bertanya, “Kalau di rumah, biasanya si adek dibiasakan bagaimana?” Pertanyaan sederhana ini memberi ruang bagi anakmu untuk menjelaskan tanpa merasa sedang dikoreksi.
Kamu juga tetap boleh membagikan pengalaman. Misalnya, bercerita tentang permainan tradisional yang dulu disukai anakmu, atau cara keluarga membangun kebiasaan berkumpul setiap sore. Hal-hal seperti ini bisa memperkaya pengalaman cucu tanpa mengubah aturan dari orang tuanya.
Pada akhirnya, perbedaan ini bisa dijembatani lewat komunikasi dan pengertian terhadap kondisi anakmu serta kebiasaan yang berubah di masa sekarang. Intinya yang ingin dicapai tetap sama, yaitu kebaikan si cucu.
Kebaikan ini juga bisa dijaga dari sisi lain, yaitu bagaimana kamu bisa mencegah risiko kesehatan yang biasa muncul di usia lanjut. Ketika kamu ingin tetap hadir untuk cucu sambil menikmati masa pensiun, maka penting untuk memiliki perlindungan kesehatan dan finansial. Karena memiliki asuransi membuat biaya perawatan yang datang tiba-tiba tidak langsung mengambil dari tabungan yang sudah disiapkan. Keluarga dan anakmu pun tidak perlu ikut khawatir.
Waktu yang lebih longgar setelah pensiun sering membuatmu ingin lebih sering hadir untuk keluarga. Menjemput cucu, menemani belajar, atau membelikan sesuatu yang ia suka tentu terasa menyenangkan. Namun, cara membantu yang menurutmu baik belum tentu sama dengan yang dibutuhkan anakmu. Bisa jadi ia lebih menghargai waktumu daripada hadiah. Karena itu, bantuan paling nyaman diberikan setelah dibicarakan, termasuk soal waktu dan tanggung jawab masing-masing. Beberapa hal ini bisa menjadi pegangan:
Tanyakan bantuan yang benar-benar dibutuhkan. Mungkin anakmu lebih terbantu kalau kamu sesekali menjaga cucu, dibanding membelikan barang baru yang belum diperlukan.
Tetapkan anggaran khusus untuk cucu. Hadiah ulang tahun atau perlengkapan sekolah boleh disiapkan, selama jumlahnya tidak mengganggu pengeluaran bulanan dan dana pensiun.
Jaga waktu untuk dirimu sendiri. Menemani cucu boleh menjadi rutinitas, tetapi kegiatan pribadi, istirahat, dan waktu bersama pasangan tetap perlu tempat.
Satu hal lagi yang sering terlewat adalah kesehatanmu sendiri. Kesehatan adalah modal agar kamu bisa terus hadir untuk cucu, jadi biaya perawatannya layak punya perlindungan tersendiri, terpisah dari anggaran untuk cucu. Salah satu pilihan yang bisa dipelajari adalah BCA Life Perlindungan Kesehatan Ultima, asuransi kesehatan individu yang memberikan penggantian biaya perawatan sesuai plan dan ketentuan polis. Manfaatnya antara lain:
Rawat inap dan pembedahan. Sebagai asuransi rawat inap sekaligus asuransi rumah sakit, produk ini membantu mengganti biaya perawatan di rumah sakit.
Rawat jalan. Termasuk rawat jalan 60 hari sebelum dan 90 hari setelah rawat inap atau pembedahan.
Perawatan penyakit kritis.
Perawatan kecelakaan.
Santunan kematian dan manfaat lainnya, sesuai plan.
Beberapa hal lain yang mungkin berguna saat kamu menyusun anggaran:
Manfaat tahunan hingga Rp15 miliar, dengan booster hingga Rp45 miliar.
Ada pilihan plan berfitur co-payment (pembagian risiko) yang preminya lebih rendah.
Premi BCA Life bisa dibayar bulanan, kuartalan, semesteran, atau tahunan.
Wilayah pertanggungan bisa mencakup seluruh dunia, kecuali Amerika Serikat, sesuai plan.
Usia masuknya mulai 30 hari hingga 70 tahun, dengan masa pertanggungan satu tahun yang dapat diperpanjang otomatis sampai usia 99 tahun. Sebelum memutuskan, minta ilustrasi manfaat dan premi sesuai kondisimu, lalu baca Ringkasan Informasi Produk dan Layanan agar manfaat dan ketentuannya jelas.
Kedekatan dengan cucu tidak diukur dari seberapa sering kamu memberi hadiah atau mengesampingkan kebutuhan sendiri. Saat peran dan keuangan tertata, termasuk dengan asuransi finansial yang sesuai kebutuhan, kamu punya lebih banyak ruang untuk menikmati masa pensiun sekaligus menyaksikan cucu tumbuh besar.
PT Asuransi Jiwa BCA berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan