Ada banyak hal yang terasa lebih mendesak dibanding menabung untuk sesuatu yang masih bertahun-tahun lagi. Gajian baru saja masuk, tapi sebagian besar sudah digunakan untuk cicilan, belanja dapur, dan tagihan rumah. Di tengah situasi seperti ini, wajar kalau tabungan pendidikan anak jadi salah satu rencana yang mudah digeser ke bulan depan, dan bulan depannya lagi.
Kondisi ini biasanya makin terasa bagi yang baru menikah atau sedang merintis usaha. Sekolah anak masih terasa jauh, sementara urusan hari ini saja belum semuanya beres. Menunggu sampai penghasilan lebih stabil pun jadi pilihan yang masuk akal.
Namun masalahnya, "stabil" itu sendiri jarang punya titik yang pasti. Selalu ada kebutuhan baru yang datang tepat ketika kondisi mulai terasa membaik, sehingga muncul pertanyaan sederhana, “Kalau terus menunggu momen yang tepat, kapan persiapan itu benar-benar dimulai?
Coba bayangkan beberapa tahun lagi, saat kamu dan pasangan mulai mencari sekolah untuk si kecil. Pilihannya sudah ada, lokasinya cocok, tapi uang masuknya ternyata lebih besar dari perkiraan. Waktu pendaftaran tinggal sebentar, jadi kesempatan mengumpulkan dana pun jadi sempit.
Kalau tabungan pendidikan tidak disiapkan dari jauh-jauh hari, situasi seperti ini bisa terasa berat karena beberapa hal:
Jatah menabung jadi jauh lebih besar dari yang seharusnya
Pengeluaran lain seperti seragam, buku, dan transportasi ikut terdesak
Simpanan yang ada gampang terpakai untuk kebutuhan mendadak lainnya
Sebagai gambaran, kalau kamu dan pasangan menargetkan Rp36 juta dalam enam tahun, cukup sisihkan Rp500 ribu per bulan. Tapi kalau baru mulai tiga tahun sebelum waktunya, jumlah yang harus disisihkan bisa naik dua kali lipat jadi Rp1 juta per bulan, itu pun belum termasuk bunga, biaya administrasi, atau kenaikan tarif sekolah tiap tahun.
WiserAdvisor menjelaskan bahwa memisahkan tujuan finansial pendidikan anak dari kebutuhan lain sangat penting, sebab tanpa pemisahan ini, kamu dan pasangan berisiko mengambil tabungan pendidikan anak untuk menutup kebutuhan pribadi, atau bahkan mengorbankan dana pensiun demi melunasi biaya sekolah anak.
Ini sejalan dengan apa yang sering terjadi kalau perencanaan sejak awal tidak matang, bukan cuma soal menunda menabung, tapi juga soal dana yang seharusnya untuk satu tujuan malah "dipinjam" untuk tujuan lain.
Masalahnya, menunda menabung bukan satu-satunya hal yang bisa mengganggu rencana ini. Ada juga risiko yang datangnya tidak bisa diprediksi, misalnya biaya berobat yang muncul tiba-tiba. Kalau dana darurat belum cukup menutupnya, uang sekolah yang susah payah dikumpulkan biasanya jadi yang pertama "dikorbankan". Setelahnya, kamu dan pasangan harus mulai lagi dari lagi untuk mengejar jumlah yang sudah terpakai, belum lagi ditambah waktu yang makin sempit menjelang pendaftaran.
Di titik inilah dibutuhkan solusi yang bisa menjaga dua kebutuhan sekaligus tetap berjalan, tanpa harus saling mengorbankan satu sama lain.
Salah satu solusi untuk menjaga dua kebutuhan itu tetap berjalan beriringan adalah dengan memiliki asuransi kesehatan. Kalau biaya berobat mendadak datang, proteksi ini bisa membantu meringankan beban biaya medis sesuai yang dijamin polis, sehingga kemungkinan mengambil simpanan sekolah untuk menutup biaya perawatan bisa berkurang. Dana pendidikan tetap jalan seperti biasa, sementara perlindungan kesehatan menjadi bagian dari persiapan menghadapi pengeluaran yang datangnya tidak terduga.
Kamu dan pasangan bisa mempertimbangkan BCA Life Perlindungan Kesehatan Ultima sebagai asuransi individu sesuai kebutuhan. Produk ini memberikan manfaat penggantian biaya asuransi rawat inap dan pembedahan berdasarkan ketentuan polis, dengan beberapa cakupan seperti:
Manfaat tahunan perlindungan kesehatan hingga Rp15 miliar
Fitur booster manfaat tahunan hingga Rp45 miliar
Manfaat rawat jalan hingga 60 hari sebelum dan 90 hari setelah rawat inap atau pembedahan
Cakupan ini cukup relevan karena kebutuhan perawatan biasanya tidak berhenti begitu keluar dari rumah sakit, ada masa sebelum dan sesudah rawat inap yang sama-sama butuh biaya, sesuai ketentuan produk.
Soal pembayaran, Premi BCA Life bisa dipilih secara bulanan, kuartalan, semesteran, atau tahunan, jadi kamu dan pasangan bisa menyesuaikan dengan pola pemasukan yang ada. Fleksibilitas seperti ini sebenarnya berlaku juga untuk tabungan pendidikan anak, tidak harus menunggu jumlah besar dulu baru mulai.
Menunggu penghasilan lebih besar memang terasa lebih nyaman, tapi kamu dan pasangan sebenarnya bisa mulai dari kemampuan hari ini. Sepakati dulu nominal awal untuk tabungan pendidikan anak, lalu evaluasi secara berkala. Kalau ada rezeki tambahan, sisihkan sebagian untuk mendekatkan target, bisa dianggap sebagai bagian dari investasi masa depan anak. Persiapan yang dicicil perlahan justru memberi kamu dan pasangan lebih banyak waktu, sebelum tagihan sekolah benar-benar datang.
PT Asuransi Jiwa BCA berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan