Lari sering dianggap olahraga paling sederhana, cukup pakai
sepatu, keluar rumah, lalu mulai melangkah. Namun ketika hobi ini berkembang
menjadi maraton, ceritanya jadi berbeda. Dibutuhkan kesiapan fisik yang matang,
pola latihan yang konsisten, waktu istirahat yang cukup, hingga dukungan dari
orang-orang terdekat. Bukan untuk menakut-nakuti, tapi penting untuk melihat
maraton dengan kacamata manajemen risiko, supaya aktivitas yang awalnya
menyenangkan ini tetap aman dan realistis untuk dijalani.
Bagi banyak keluarga, lari bisa jadi kebiasaan sehat yang
justru mempererat hubungan. Awalnya mungkin cuma jalan pagi bersama, lalu ikut
komunitas, sampai akhirnya tertarik coba race 5K, 10K, half maraton, bahkan
maraton penuh. Masalahnya, semangat sering datang lebih dulu dibanding kesiapan
tubuh. Cedera otot, sendi, atau jaringan lunak jadi risiko yang paling sering
muncul, mulai dari keseleo, otot tertarik, sampai tendinitis, seperti yang
dikutip dari my.clevelandclinic.org.
Biasanya ini terjadi karena latihan berlebihan, teknik lari
yang kurang tepat, atau tubuh dipaksa terus bergerak tanpa istirahat yang
cukup. Buat kamu yang berkeluarga, ini bukan hal sepele, ketika satu anggota
yang cedera saja bisa bikin rutinitas rumah berantakan, kerjaan keteteran,
bahkan rencana liburan yang sudah disusun jauh-jauh hari jadi ikut terganggu.
Selain cedera, maraton juga punya risiko lain yang sering
diremehkan: kelelahan berlebihan. Jarak yang jauh bikin tubuh kehilangan
cairan, energi, dan mineral lebih cepat dari biasanya. Makanya minum air itu
bukan cuma soal pas haus saja , justru harus jadi bagian dari persiapan,
sebelum, selama, sampai setelah lari. Yang juga penting untuk dikenali keluarga
adalah sinyal bahaya yang berkaitan dengan jantung dan pernapasan. Sepatu
bagus, jam tangan olahraga, atau jadwal latihan yang rapi memang bisa membantu,
tapi semuanya tetap nggak bisa menggantikan kejujuran terhadap kondisi tubuh
sendiri.
Memahami risikonya
saja tentu belum cukup, yang lebih penting adalah tahu cara mengelolanya supaya
hobi lari tetap bisa dinikmati tanpa membahayakan diri sendiri maupun keluarga.
Berikut beberapa tips yang bisa kamu coba sebelum memustuskan untuk lari atau
maraton.
●
Mulai dari target yang realistis. Jangan langsung incar
maraton penuh kalau tubuh masih baru terbiasa lari pendek. Naikkan jarak secara
bertahap, dari jalan cepat, 5K, lalu terus berkembang sesuai kemampuan.
●
Sisipkan hari istirahat dalam jadwal latihan. Rest day bukan
berarti malas, tapi bagian penting dari proses pemulihan otot agar latihan
berikutnya tetap aman.
●
Jangan lewatkan pemanasan dan pendinginan. Pemanasan membantu
tubuh siap sebelum bergerak, sementara pendinginan membuat badan kembali tenang
dan mengurangi kaku setelah lari.
●
Perhatikan sepatu, pakaian, dan rute. Pilih sepatu yang pas
dengan bentuk kaki, pakaian ringan, serta jalur yang aman dari kendaraan. Kalau
lari bareng anak atau orang tua, rute datar biasanya lebih nyaman buat semua.
●
Jaga asupan cairan dan makanan. Pastikan energi cukup sebelum
long run, lalu bantu pemulihan dengan air, karbohidrat, dan protein
setelahnya. Hindari coba makanan baru tepat sebelum race, karena perut
bisa bereaksi tak terduga.
●
Dengarkan sinyal dari tubuh sendiri. Nyeri tajam, pusing,
mual, atau sesak bukan hal yang bisa diabaikan. Lebih baik berhenti sebentar
atau konsultasi ke tenaga kesehatan bila keluhan terus berulang.
●
Minta support dari keluarga. Pasangan, anak, atau orang tua
bisa membantu kamu mengingatkan jadwal makan, waktu tidur, sampai batas
latihan. Dukungan seperti ini bikin hobi lari terasa lebih aman, bukan sekadar
ambisi yang dijalani sendirian.
Lari dan maraton
bisa menjadi hobi yang sehat untuk keluarga selama dikelola dengan bijak.
Manajemen risiko bukan berarti membatasi mimpi, melainkan membantu kamu tahu
kapan harus maju, kapan perlu pelan, dan kapan sebaiknya berhenti. Finish line
memang menyenangkan, tetapi pulang dengan tubuh sehat jauh lebih penting. Buat
yang masih mencari cara aman untuk membangun kebiasaan ini secara bertahap, ada
baiknya mulai dari tantangan yang fleksibel dan tidak memaksa.
Salah satunya
lewat event virtual run Run On, Life On: The Heritage Race yang kembali diselenggarakan
oleh BCA Life. Event ini mengajak kamu dan keluarga membangun kebiasaan
berjalan atau berlari sesuai ritme masing-masing, tanpa harus terburu-buru
mengejar target yang tidak realistis. Peserta cukup menyelesaikan tantangan berjalan
atau berlari minimum 12 kilometer, ditambah 1 kali workout challenge, melalui
aplikasi NOW by BCA Life dan GERAK. Menariknya,
setiap 12 kilometer yang berhasil ditempuh akan dikonversikan menjadi Rp12.000
untuk mendukung pengelolaan sampah di Jakarta, jadi setiap langkah yang diambil
tidak hanya baik untuk kesehatan, tapi juga memberi dampak positif bagi
lingkungan sekitar.
Bagi yang berhasil menyelesaikan tantangan dan berstatus sebagai finisher, ada kesempatan memenangkan berbagai hadiah menarik, mulai dari Motor Listrik POLYTRON EV FOX 200, Logam Mulia 1 Gram, Apple Watch, hingga Xiaomi Redmi Tab. Periode pendaftaran dibuka mulai 15 Mei – 11 Juli 2026, sementara periode perlombaan berlangsung dari 12 – 31 Juli 2026. Momentum yang pas untuk mulai bergerak lebih aktif, sekaligus jadi pengingat bahwa menjaga kesehatan tubuh bisa berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap lingkungan.
PT Asuransi Jiwa BCA berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan