Ciri-ciri DBD sering kali terlihat mirip dengan demam
biasa, terutama pada hari-hari awal. Tubuh terasa panas, kepala berat, dan
badan pegal sehingga banyak orang menganggapnya hanya kelelahan atau masuk
angin. Padahal, DBD atau Demam Berdarah Dengue perlu lebih diwaspadai, terutama
pada anak-anak dan lansia yang kondisi tubuhnya cenderung lebih rentan terhadap
infeksi.
DBD merupakan penyakit yang ditularkan melalui gigitan
nyamuk Aedes aegypti dan masih menjadi salah satu masalah kesehatan di
Indonesia. Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, tingkat
penyebarannya di Asia Tenggara juga tergolong tinggi. Meski tidak semua demam
berarti DBD, penting bagi kamu mengenali beberapa tanda yang perlu diwaspadai
agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan tepat.
Berikut beberapa gejala awal yang bisa
membantu kamu membedakan DBD dengan demam biasa sehingga kondisi tubuh dapat
lebih cepat diwaspadai:
DBD
biasanya menyebabkan demam tinggi tiba-tiba (bisa mencapai 40 celcius derajat)
tanpa disertai batuk atau pilek seperti flu biasa.
Rasa sakit
di area belakang mata sering menjadi tanda yang cukup khas pada DBD. Rasanya
bisa makin terasa saat mata digerakkan. Demam biasa biasanya lebih sering
menimbulkan kepala berat, badan lesu, atau meriang, tetapi jarang sampai terasa
nyeri tajam di belakang mata.
World
Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa gejala dengue dapat mencakup “muscle
and joint pains” atau nyeri otot dan sendi. Pada DBD, pegalnya bisa terasa
lebih berat, seperti badan habis bekerja keras, padahal aktivitas tidak terlalu
banyak.
Demam biasa
kadang membuat nafsu makan menurun. Namun, pada DBD, keluhan mual dan muntah
bisa lebih terasa. Centers of Disease Control and Prevention (CDC) menyebut
muntah berulang, terutama tiga kali atau lebih dalam 24 jam, termasuk tanda
bahaya yang perlu segera diperiksakan.
Pada
beberapa orang, DBD dapat memunculkan ruam atau bintik merah di kulit. Ciri ini
memang belum tentu selalu muncul, tetapi tetap perlu diperhatikan, apalagi bila
disertai demam tinggi dan badan sangat lemas.
Ini yang
sering membuat orang lengah. Saat suhu tubuh mulai turun, banyak yang merasa
penyakitnya sudah membaik. Padahal, pada DBD, fase kritis bisa terjadi ketika
panas mulai mereda. CDC mengingatkan agar tanda bahaya DBD diperhatikan setelah
demam turun, seperti nyeri perut, muntah, perdarahan gusi atau hidung, serta
tubuh sangat lemas.
Jika gejala tersebut dialami, lebih aman segera periksa ke
fasilitas kesehatan. Pemeriksaan darah dapat membantu dokter melihat kondisi
tubuh, termasuk trombosit dan tanda infeksi lainnya.
Beberapa kebiasaan sehari-hari juga dapat
memperburuk kondisi DBD jika tidak segera diperhatikan. Karena itu, penting
bagi kamu dan keluarga untuk lebih waspada selama masa pemulihan maupun saat
gejala mulai muncul.
Menunda
pemeriksaan saat demam tinggi dapat meningkatkan risiko kondisi DBD berkembang
lebih serius.
Tubuh lebih
mudah mengalami dehidrasi saat demam sehingga cairan perlu dipenuhi secara
rutin.
Beberapa
obat tertentu dapat meningkatkan risiko perdarahan pada penderita DBD jika
dikonsumsi tanpa arahan medis.
Tubuh
membutuhkan istirahat agar kondisi tidak semakin lemah dan proses pemulihan
berjalan lebih baik.
Mimisan,
gusi berdarah, atau BAB berwarna gelap perlu segera diperiksa karena bisa
menjadi tanda DBD berat.
Menjaga kesehatan keluarga bukan berarti harus merasa takut
berlebihan, tetapi lebih peka terhadap sinyal tubuh yang muncul. Jika demam
terasa tidak biasa, tubuh sangat lemas, muncul nyeri hebat, muntah berulang,
atau tanda perdarahan ringan, sebaiknya jangan menunda pemeriksaan agar kondisi
bisa segera ditangani dengan tepat.
Selain memperhatikan gejala, menjaga kebersihan lingkungan
juga menjadi langkah penting untuk membantu mencegah penyebaran DBD. Genangan
air di sekitar rumah dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes
aegypti, sehingga kebiasaan rutin menguras dan menutup wadah air tetap perlu
dilakukan.
Mengenali ciri-ciri DBD sejak dini juga membantu tubuh
mendapatkan penanganan lebih cepat dan aman. Upaya menjaga kesehatan ini
sebaiknya diiringi dengan perlindungan yang tepat, seperti menghadirkan
asuransi kesehatan keluarga agar risiko biaya medis tak terduga tidak langsung
membebani keuangan.
Kehadiran asuransi kesehatan membantu keluarga lebih siap
menghadapi kebutuhan asuransi rawat inap maupun asuransi rawat jalan, dengan
pengaturan premi asuransi kesehatan yang dapat disesuaikan sebagai bagian dari
perencanaan asuransi keluarga.
Melengkapi kebutuhan perlindungan tersebut, BCA Life
menghadirkan BCA Life Perlindungan Kesehatan Ultima
dengan manfaat yang mudah dipahami:
●
Perlindungan kesehatan hingga Rp15
miliar per tahun.
●
Manfaat asuransi rawat jalan 60
hari sebelum dan 90 hari setelah asuransi rawat inap serta tindakan pembedahan.
●
Perlindungan biaya perawatan
akibat kecelakaan.
●
Santunan kematian untuk membantu
menjaga stabilitas finansial keluarga.
●
Jangkauan perlindungan di seluruh
dunia (kecuali Amerika Serikat) dengan pilihan wilayah yang fleksibel.
Perlindungan yang terencana membantu keluarga menjalani
aktivitas sehari-hari dengan rasa aman dan lebih tenang.
PT Asuransi Jiwa BCA berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan