Menerima warisan dari orang tua bisa membuka banyak kemungkinan baru. Mungkin kamu mendapatkan rumah, sebidang tanah, atau sejumlah tabungan yang bisa membantu mewujudkan rencana masa depan. Namun, sebelum menentukan penggunaannya, ada beberapa hal yang perlu dipastikan agar aset tersebut benar-benar bisa dimanfaatkan.
Apalagi kalau selama ini kamu lebih terbiasa mengatur uang dari penghasilan sendiri. Mengelola peninggalan keluarga tentu punya pertimbangan berbeda, mulai dari urusan kepemilikan, kewajiban administrasi, sampai keputusan finansial yang mungkin melibatkan anggota keluarga lainnya. Lalu, apa saja yang sebaiknya diperhatikan?
Punya rumah peninggalan orang tua belum tentu berarti kamu bisa langsung menjual atau menyewakannya. Kalau aset itu masih tercatat atas nama orang tua, atau menjadi hak bersama beberapa ahli waris, ada dokumen kepemilikan yang perlu diperiksa lebih dulu.
Langkah awal nya, kumpulkan dokumen seperti sertifikat, akta kematian, dan surat keterangan ahli waris. Cek juga apakah aset itu masih dijaminkan atau sedang punya persoalan hukum, supaya tidak ada kejutan di tengah jalan.
Kalau ada saudara yang ikut menerima bagian, bicarakan pembagiannya secara terbuka. Kesepakatan keluarga sebaiknya dituangkan dalam dokumen yang sah agar pengurusan berikutnya lebih jelas. Kalau butuh pendampingan, kamu bisa berkonsultasi dengan notaris atau Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) sesuai kebutuhan.
Katakanlah kamu mendapat bagian dari rumah bernilai Rp800 juta. Apakah artinya kamu langsung memegang dana sebesar itu? Belum tentu. Nilai rumah berbeda dengan uang yang tersedia, apalagi kalau properti belum dijual atau masih memiliki kewajiban tertentu.
Karena itu, periksa dulu biaya administrasi, pajak yang relevan, dan kemungkinan utang yang ditinggalkan pewaris. Soal pajak, Direktorat Jenderal Pajak menjelaskan harta warisan yang diterima oleh ahli waris bukanlah objek pajak penghasilan (PPh). Artinya, warisan yang kamu terima tidak dihitung sebagai penghasilan yang dikenai PPh.
Meski begitu, pengalihan hak atas tanah atau bangunan dapat melibatkan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) serta pengurusan surat keterangan bebas PPh sesuai ketentuan. Jadi, bebas PPh tidak selalu berarti bebas biaya. Tanggung jawab atas utang pewaris juga perlu diperiksa berdasarkan hukum waris yang berlaku.
Supaya lebih mudah, buat catatan sederhana berisi perkiraan nilai aset, kewajiban yang ditemukan, dan biaya pengurusannya. Catatan ini bisa jadi dasar sebelum kamu membuat keputusan finansial.
Setelah urusan kepemilikan dan nilainya jelas, barulah kamu bisa menentukan langkah berikutnya. Kalau dana darurat belum cukup, sebagian hasil warisan bisa dialokasikan ke sana. Punya cicilan yang ingin diselesaikan? Pertimbangkan manfaat pelunasannya. Rencana melanjutkan pendidikan atau memulai usaha juga bisa masuk daftar prioritas.
Bagaimana kalau warisannya berupa rumah? Kamu bisa menimbang apakah rumah itu akan ditempati, disewakan, atau dijual setelah hak seluruh ahli waris diselesaikan. Setiap pilihan punya konsekuensi, jadi sesuaikan dengan kondisi keuangan dan tujuan yang ingin kamu capai. Kamu juga tidak perlu memutuskan semuanya sekaligus.
Selain itu, agar semua keinginan yang kamu rencanakan bisa berjalan dengan baik, kamu perlu mempersiapkan berbagai hal, termasuk risiko yang bisa berdampak pada kondisi finansialmu. Nyatanya ketika kamu tidak ada persiapan, warisan yang tadinya sudah punya tujuan bisa terpakai untuk menutup biaya itu. Dana pendidikan jadi berkurang, rencana usaha tertunda, atau rumah terpaksa dijual lebih cepat dari rencana. Karena itu, selain mengurus dokumen dan menentukan prioritas, ada baiknya kamu ikut memikirkan perlindungan finansial supaya warisan itu tetap utuh untuk tujuan awalnya.
Warisan dari orang tua biasanya hasil kerja keras bertahun-tahun. Karena itu, wajar kalau kamu ingin menjaganya supaya tetap bermanfaat, baik untuk rencanamu sendiri maupun untuk orang-orang terdekat. Menjaga di sini bukan hanya soal merawat aset, tapi juga menyiapkan diri menghadapi hal-hal yang tidak bisa diduga.
Memikirkan perlindungan finansial juga tidak harus menunggu sampai menikah atau punya anak. Kamu bisa mulai dari menjaga dana yang dimiliki, mempelajari pilihan investasi masa depan, lalu mengenali bentuk perlindungan yang sesuai. Makin besar tanggungan yang bergantung pada penghasilanmu, makin penting pula persiapan ini.
Salah satu pilihan yang bisa dipelajari adalah BCA Life Legacy Protection, produk asuransi jiwa dengan masa pertanggungan sampai usia 99 tahun. Produk ini bisa jadi bentuk asuransi keluarga yang menyiapkan manfaat finansial bagi penerima manfaat yang kamu tunjuk. Manfaat utamanya meliputi:
Manfaat meninggal dunia
Uang pertanggungan diberikan kepada penerima manfaat jika terjadi risiko meninggal dunia, sesuai ketentuan polis. Inilah inti dari asuransi meninggal dunia.
Manfaat terminal illness
Perlindungan tambahan jika tertanggung didiagnosis penyakit terminal, sesuai ketentuan polis.
Manfaat akhir kontrak
Uang pertanggungan tetap diterima jika kamu tetap hidup hingga masa pertanggungan berakhir.
Manfaat nilai pertanggungan tambahan
Tambahan manfaat di luar uang pertanggungan dasar, sesuai ketentuan polis.
Kepastian nilai tunai
Nilai tunai dijamin saat polis ditebus, jadi kamu punya gambaran yang pasti sejak awal.
Beberapa hal lain yang perlu kamu tahu, yaitu usia masuk mulai 6 bulan sampai 70 tahun, dengan uang pertanggungan Rp500 juta sampai Rp300 miliar. Premi asuransi bisa dibayar sekaligus atau berkala (bulanan atau tahunan) selama 5, 10, 15, atau 20 tahun, sehingga kamu bisa memilih skema yang paling cocok dengan kemampuan keuangan. Produk ini juga menjanjikan tidak ada biaya tambahan.
Tentu saja, asuransi jiwa bukan jaminan bahwa nilai rumah, tanah, atau investasi warisan akan terus naik. Perannya lebih pada menyiapkan manfaat finansial bagi pihak yang kamu tinggalkan, sesuai perlindungan yang dipilih. Karena itu, pelajari dulu manfaat, pengecualian, dan komitmen pembayaran premi sebelum memutuskan. Kamu juga bisa melihat ilustrasi manfaatnya di situs resmi BCA Life.
Warisan dari orang tua bukan sekadar aset yang berpindah tangan. Ada kesempatan untuk mengelolanya secara bijak sambil membangun rencana finansialmu sendiri. Siapa tahu, keputusan yang kamu ambil hari ini kelak ikut memberi manfaat bagi generasi berikutnya.
PT Asuransi Jiwa BCA berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan